Pementasan Teater “Kucak-Kacik” UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan

Bogor, 17 November 2019 dalam rangka pembelajaran seni drama gaya surealis teater rakyat dan program Departemen Teater UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan, Pengurus dan Anggota dari UKM Seni dan Budaya akan menyelenggarakan kegiatan Pentas Tunggal Teater yang ditujukan kepada Mahasiswa Universitas pakuan, Dosen & Staff Universitas Pakuan, Rektor Universitas Pakuan, Mahasiswa Bogor, Masyarakat Sekitar Kampus Universitas Pakuan, Pelajar Se-Bogor, dan Mayarakat Umum di luar Bogor.

Kegiatan Pementasan Teater yang berjudul Kucak-Kacik, akan diadakan pada hari Kamis, 5 Desember 2019 yang di adakan secara 2 sesi, Sesi pertama dimulai pada pukul 14.00-
16.00 WIB dan sesi dua dimulai pada pukul 20.00-22.00 WIB. Bertempat di Gedung Kemuning Gading Kota Bogor. Acara ini dihadiri sekitar 800 penonton dari seluruh kalangan yang ada.

Bentuk kegiatan pentas teater ini yaitu dengan memberikan kesempatan berpartisipasi aktif dan
kreatif kepada seluruh pengurus dan anggota UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan dan melalui pentas teater ini memberikan hiburan, pendidikan, pengetahuan, dan pesan moral kepada para masyarakat yang menonton.

Naskah Kucak-Kacik dibuat oleh Arifin C. Noer pada tahun 70-an, merupakan naskah teater surealis yang dibawakan dengan nuansa teater rakyat cirebon. Arifin mengkritisi pada zamannya yang dituangkan pada naskah teater Kucak-Kacik ini yaitu mengkritisi sistem kepemerintahan juga pendidikan.

1. Manusia yang kehilangan jati dirinya.
Kocak-Kacik membuka naskahnya dengan penggambaran seorang manusia yang kehilangan jati dirinya.
Ada tokoh bernama Darim yang sedang mencari Darim. Ini merupakan simbol surealis manusia yang sedang mencari dirinya sendiri. Di sisi lain ada tokoh bernama Eroh (istrinya Darim) yang berusaha
meyakinkan Darim bahwa Darim yang dicari oleh Darim adalah Darim itu sendiri. Hingga akhirnya Darim
menemukan Darim yang dicarinya sebagai sosok mayat. Di bagian awal ini juga muncul tokoh Guru yang
disepakati sebagai bagian dari diri Darim yang disebut dengan “Kesadaran”.

2. Pendidikan di dalam keluarga.
Kritikan Kocak-Kacik terhadap kondisi keluarga digambarkan dengan munculnya tokoh Surya dan
Purnama. Di sana digambarkan bagaimana kedua tokoh ini melahirkan bayi-bayi dan mengajari bayi-bayi itu tentang makna “Orang” dan “Manusia”. Sebuah gambaran keluarga Indonesia yang telah gagal
membesarkan anak-anak mereka agar bisa memahami hakekat sebagai seorang manusia.Pesan yang ingin disampaikan pada bagian ini adalah bahwa banyak keluarga hanya bisa melahirkan anak tapi tidak bisa membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang benar. Anak-anak tumbuh besar tanpa pendidikan dan perhatian yang benar dari orang tua. Bahkan orang tua meninggalkan anak-anak mereka tanpa peduli kalau anak-anak itu sedang membutuhkan mereka. Ketika anak-anak merengek,
cukup diberikan morfin. Morfin disini bisa berarti uang, games, gadget, dan lain-lain yang dianggap bisa
menggantikan posisi dan peran orang tua.

3. Sindiran terhadap dunia pendidikan.

Dari kondisi keluarga, Kocak-Kacik beralih ke gambaran terhadap kondisi dunia pendidikan. Dunia pendidikan di Indonesia dipandang tidak efektif dalam mendidik para peserta didik. Baik dari metode maupun konten pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan karakter dan kebutuhan manusia yang menjadi peserta didik. Ditambah lagi para pendidik (guru) yang juga tidak kompeten dalam membimbing
murid-muridnya.

Di bagian ini, Arifin memperlihatkan bagaimana seorang Guru dalam memberikan pendidikan yang salah terhadap murid-muridnya. Dunia pendidikan hanya fokus terhadap pengajaran ilmu pengetahuan
(transfer of knowledge) tapi gagal dalam mendidik peserta didik untuk menghadapi kehidupan. Bahkan
pendidikan tidak bisa mencontohkan makna sopan santun yang benar terhadap peserta didik. Murid-
murid harus disamaratakan, tidak boleh ada yang punya pemikiran berbeda. Jika ada yang berbeda,
maka murid tersebut dianggap bloon, bahkan dikeluarkan dari sekolah.

4. Sindiran terhadap perilaku sosial masyarakat.
Sindiran Arifin terhadap perilaku sosial masyarakat digambarkan dalam suasana antrian di kelurahan.
Mereka antri untuk mengganti nama di sana. Kemudian muncul seorang anak kecil membawa orang tua
yang juga ingin mengganti nama. Tidak ada yang peduli dengan kondisi orang tua itu. Meskipun orang tua itu dalam kondisi payah dan hampir mati, dia harus tetap dipaksa ikut antri. Antrian yang panjangnya 7 kilo meter.

5. Sindiran terhadap hukum dan pengadilan.
Darim kali ini dihadapkan pada kasus tuduhan pembunuhan dan pelanggaran terhadap larangan
menggunakan nama “Darim”. Saat dia tidur, ada puluhan ekor macan yang memaksanya untuk hadir di
pengadilan. Di bagian ini digambarkan bagaimana seorang Hakim memainkan perannya yang sewenang-wenang terhadap hukum. Sejak awal masuk, Hakim sudah memperlihatkan sosoknya yang arogan. Sifat arogannya digambarkan melalui perannya pada tokoh macan. Dia juga memimpin pengadilan bukan dengan palu tapi dengan pistol. Siapa saja yang berani kepadanya, langsung ditembak mati. Darim
divonis berat oleh Hakim. Namun Eroh membujuk Hakim agar membebaskannya. Hakim memenuhi
permintaan Eroh dengan syarat, Eroh harus mau tidur dengannya.

6. Sindiran terhadap para wakil rakyat (DPR/MPR).
Setelah bebas dari jerat hukum, Darim meneruskan perjalanan untuk mencari dirinya. Darim juga terpaksa membawa serta Eroh di dalam perjalanan tersebut. Di tengah hutan, Darim menemukan 17 truk berisi uang. Truk-truk tersebut tidak memiliki supir dan tidak ada yang memilikinya. Eroh memaksa Darim agar mengakui kepemilikian 17 truk berisi uang tersebut. Namun Darim menolak keras.

Eroh terus berusaha mengakui kepemilikan 17 truk itu. Dia berusaha menyuap murid-murid di Taman
Kanak-Kanak untuk menjadi saksi kepemilikan 17 truk tersebut. Murid-murid TK ini merupakan simbol wakil rakyat (DPR/MPR) yang mudah disuap agar mau mendukung proyek-proyek menguntungkan. Di
pengadilan, Eroh akhirnya berhasil memenangkan kepemilikan 17 truk tersebut. Ini karena adanya dukungan saksi-saksi yang telah dia suap. Namun, di akhir kisah, Eroh dirampok. Eroh kehilangan semua
dan menyadari kesalahannya. Dia meminta maaf kepada Darim. Namun Darim hanya diam, kemudian
pergi dan menghilang.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari segenap Civitas akademika Universitas Pakuan
Bogor, Rektor Universitas Pakuan, Pembina UKM Seni dan Budaya, Keluarga Teater Kampus Bogor, dan Relasi UKM Seni dan Budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *