LALINGLUNG : Kritik Para Koruptor Lewat Drama Komedi

Bogor—Kabar terbaru datang dari Teater Gandjil. Kelompok teater yang berangkat dari FKIP Universitas Pakuan ini kembali menggelar sebuah pertunjukan teater pada Sabtu (11/1) lalu. Pertunjukan teater yang merupakan produksi ke-6 dari Teater Gandjil ini membawakan sebuah naskah berjudul Lalinglung dan disutradarai oleh Angga Yuda Septiyan. Naskah berbahasa Sunda ini merupakan sebuah naskah yang diadaptasi dari naskah berjudul Juragan Hajat karya Kang Ibing yang terkenal memerankan tokoh Kabayan.

Pada awal pementasan, penonton disuguhkan sebuah tarian dengan musik pengiring yang kental dengan nuansa musik sunda. Selain itu, drama ini juga menyuguhkan suasana masyarakat Sunda di daerah pedesaan. Babak awal pementasan ini diisi dengan dialog yang terjadi di antara sepasang suami istri. Sang istri mengeluhkan kehidupan mereka yang serba kekurangan dan banyak hutang. Dalam dialognya, ia juga banyak mengkritik pemerintah yang janji-janji saat kampanyenya tidak dipenuhi, dan malah menjadi koruptor saat telah memegang kekuasaan.

Di babak kedua, terjadi pergantian pemain; sepasang suami istri yang lain tetapi masih dari desa yang sama. Kehidupan mereka juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan pasangan suami istri yang pertama, namun dari dialog antar tokoh, bisa ditangkap bahwa sang suami merupakan orang yang suka selingkuh dan suka main togel. Sang istri mengeluhkan perilaku suaminya, dan kemudian juga mengeluhkan perilaku para wakil rakyat yang suka korupsi.

Pergantian babak dari babak kedua menuju ke babak ketiga bisa dibilang cukup unik, karena para kru sama sekali tidak disamarkan, dan lampu panggung pun dibiarkan menyala, sehingga para penonton bisa dengan jelas melihat para kru menyeting panggung untuk babak selanjutnya. Dan bicara soal artistik, pementasan ini memang memiliki tata artistik yang minimalis, tetapi cukup fungsional. Artistik yang terdapat pada pementasan ini sederhana, tetapi cukup untuk membangun suasana.

Pada babak ketiga ini, setting berubah menjadi rumah sang Juragan, yang kehidupannya juga tidak bebas dari masalah-masalah. Singkat cerita, setelah melalui banyak masalah, Juragan ini akhirnya berhasil mengadakan sebuah pesta pernikahan untuk anak mereka, dan pada pesta ini pula, ia mengundang semua warga desa yang telah hadir pada babak-babak sebelumnya.

Hal lain yang unik dari pementasan ini adalah adanya sebuah tokoh penyelam yang muncul di setiap babak, tetapi hanya lewat saja. Uniknya lagi, penyelam ini mengenakan jaket dari salah satu layanan ojek online. Dan tidak disangka bahwa tokoh penyelam ini adalah tokoh yang menutup cerita.

Gerak tubuh para aktor yang luwes membuat permainan terasa natural. Komedi yang terkandung dalam dialog antar tokoh pun dekat dengan para penonton dan berhasil disampaikan dengan baik oleh para aktor sehingga tidak jarang mengundang gelak tawa penonton, terlebih pada babak pertama. Terlepas dari segala kendala teknis yang ada, para aktor dan kru telah berhasil menampilkan yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *