Sutradara dan Penyutradaraan dalam Teater

Apa yang ada di dalam pikiran Dulur Teater saat mendengar kata “sutradara” atau “penyutradaraan”?

Bagi para pelaku teater, sutradara memang sudah bukan istilah yang asing lagi. “Sutradara” pada dasarnya adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengarahkan visi sebuah pertunjukkan.

Sedangkan “penyutradaraan” adalah cara atau proses dari seorang sutradara mengarahkan pertunjukan teater itu sendiri.

Ya, kali ini Fokus Teater Bogor akan bahas lebih seputar sutradara dan penyutradaraan dalam teater. Daripada penasaran, langsung saja disimak nih, Lur!

Apa Itu Sutradara?

Menurut KBBI, sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama, pembuatan film, dan sebagainya.

Sedangkan dalam buku Dramaturgi (1993: 63), RMA Harymawan menyatakan bahwa seorang sutradara adalah karyawan yang mengkoordinasi segala unsur teater dengan paham, kecakapan, serta daya khayal yang inteligen sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil.

Penyutradaraan dalam Teater
Keseluruhan pertunjukan teater merupakan tanggung jawab sutradara (foto: Google)

Dalam sejarah perkembangan kedudukan sutradara, ternyata ada tiga peristiwa penting yang akhirnya melahirkan peran seorang sutradara seperti yang kita kenal ini. Pertama adalah ketika Saxe Meiningen, asal Jerman, mendirikan rombongan teater pada 1874-1890 dan telah mementaskan 2.591 drama di Berlin hingga seluruh Jerman.

Setelah itu, rombongan teater Saxe Meiningen melakukan tur ke negara-negara lainnya di Eropa, sehingga sedikit banyak memberikan pengaruh pada struktur koordinator pertunjukan teater.

Peristiwa kedua terjadi saat kemunculan Moscow Art Theater yang dipimpin oleh Constantin Stanislavski pada 1863-1938. Stanislavski, yang juga merupakan guru dari R. Boleslavski, adalah pendiri teori penyutradaraan teater yang berhasil menghapuskan sistem bintang. Dasar metode akting yang diterapkannya pada para aktornya adalah menggunakan kehidupan yang wajar sebagai contoh seni pentas.

Kemudian pada 1923, Stanislavski dan rombongan teaternya berkunjung ke Amerika. Lewat Princetown Players dan Group Theater, Stanislavski mempengaruhi metode yang ketika itu digunakan di Broadway, sehingga teater profesional di sana menggunakan metodenya.

Faktor lain yang juga memberikan pengaruh cukup besar pada lahirnya sutradara-sutradara baru di dunia teater adalah dengan kemunculan Community Theater Movement. Kelompok teater amatir ini memberikan produksi-produksi teater atas dasar hobi dan tujuan-tujuan sosial, sehingga muncullah sutradara-sutradara baru.

Apa Fungsi Sutradara dalam Sebuah Pementasan Teater?

Oscar Brockett pernah menyebutkan bahwa terdapat lima fungsi sutradara, yakni :

  1. Melakukan penafsiran terhadap naskah lakon
  2. Memilih para pemeran
  3. Bekerja sama dengan penulis naskah, penata pentas, dan lain-lain dalam merencanakan pementasan
  4. Memimpin latihan para pemeran
  5. Menjadi koordinator dalam menyelesaikan tugas-tugas terakhir
Penyutradaraan dalam Teater
Penafsiran naskah, salah satu fungsi sutradara (foto: Google)

Bicara soal penafsiran naskah, ada beberapa pendapat berbeda di kalangan para ahli mengenai hal ini.

Oscar Brockett berpendapat bahwa sutradara mempunyai kebebasan untuk menafsirkan, mengubah, dan memberi penekanan lain dari apa yang telah digambarkan dalam naskah lakon sesuai dengan penafsirannya.

Sedangkan menurut Boen S. Oemarjati, seorang sutradara tidak berhak sedikitpun untuk mengobrak-abrik makna yang dihayati penulis lakon dengan cara memaksakan interpretasi dan tanggapannya.

Tetapi Putu Wijaya maupun Arifin C. Noer sebagai penulis naskah lakon sendiri pernah menyatakan bahwa mereka tidak keberatan jika sutradara menafsirkan lain dari naskah lakonnya.

Jadi metode yang digunakan dalam penafsiran naskah tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Penggunaan kedua metode ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan sutradara masing-masing.

Teori Penyutradaraan Teater

Ada dua teori penyutradaraan teater yang umum digunakan; teori Gordon Craig dan teori Laissez Faire.

Teori Gordon Craig, sutradara menampilkan idenya melalui aktor dan aktris. Pada teori ini, sutradara juga mengatur semua yang berkaitan dengan pemeranan oleh aktor dan aktrisnya. Tentu penggunaan teori penyutradaraan ini akan menghasilkan pertunjukan yang sempurna, tertib, teratur, juga teliti.

Tetapi di sisi lain, jika menggunakan teori ini, sutradara akan menjadi diktator. Aktor maupun aktrisnya akan menjadi alat sutradara dan diharuskan meniru atau menerapkan gaya bermain yang sudah ditentukan oleh sutradara. Ini bisa membuat mereka kehilangan kesempatan untuk berkreasi.

Sedangkan pada teori Laissez Faire, aktor dan aktris berperan sebagai pencipta dalam teater. Tugas sutradara hanya membantu mengarahkan aktor dan aktris dalam mengekspresikan dirinya dalam sebuah lakon, sementara aktor dan aktris bebas mengembangkan konsepsi individualnya terhadap perannya masing-masing.

Memang, jika kita menggunakan teori ini, aktor dan aktris akan memiliki kesempatan untuk berkembang menurut bakat dan kemampuannya masing-masing karena sutradara memberi kesempatan pada mereka untuk melakukan proses kreatif.

Tetapi kemungkinan adanya proses yang kurang teratur dan kurang teliti menjadi lebih besar. Selain itu, pada akhirnya akan muncul ketimpangan antara aktor dan aktris atas kemampuan aktingnya masing-masing. Ada yang punya potensi lebih kuat, ada potensinya lemah.

Penyutradaraan Dalam Teater
Ada beberapa jenis sutradara dalam teori penyutradaraan teater (foto: Google)

Sedangkan pada buku Drama Dalam Drama (2019: 83) dijelaskan bahwa dalam pembahasan teori penyutradaraan, ada tiga kategori yang mendasari teori ini, yaitu model sutradara, sifat penyutradaran, serta beberapa pengetahuan yang sebaiknya dimiliki oleh seorang sutradara.

Model dan Jenis Sutradara

Model atau jenis sutradara bisa dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Sutradara sebagai pemimpin sepenuhnya; penafsir utama naskah lakon, dan konseptor (pencipta gagasan baru).
  2. Sutradara sebagai koordinator yang bertugas mengkoordinasi kegiatan kreativitas seluruh kerabat kerja teater.
  3. Sutradara sebagai ‘polisi lalu lintas’ yang bertugas sekadar mengatur dan mengawasi jalannya proses kreatif dari seluruh kerabat kerja teater.

Sifat Penyutradaraan

Kemudian untuk sifat penyutradaraan, bisa dibagi menjadi tiga juga:

  1. Mutlak, di mana setiap anggota yang terlibat dalam pementasan harus menuruti segala perintah sutradara.
  2. Tidak mutlak, di mana setiap anggota, baik tim produksi maupun pemain diberi kesempatan untuk menafsirkan naskah dan berkreasi terlebih dahulu, kemudian mendiskusikannya pada sutradara.
  3. Bebas, di mana sutradara betul-betul membebaskan kreativitas seluruh anggotanya dan hanya berperan sebagai pengawas.
Penyutradaraan Dalam Teater
Sutradara harus memiliki wawasan yang luas (foto: Google)

Selain kreatif, seorang sutradara, juga dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Seringkali dalam sebuah naskah lakon ditemukan beberapa bagian yang harus dipecahkan dengan pengetahuan yang dalam. Beberapa pengetahuan yang umum disarankan untuk dimiliki seorang sutradara antara lain:

  1. Pengetahuan umum tentang ilmu kemasyarakatan, ilmu jiwa, ilmu pendidikan, filsafat, agama, sejarah, dan ilmu bangsa-bangsa.
  2. Pengetahuan tentang kebudayaan dan seni.
  3. Pengetahuan tentang drama.

Apa Saja Langkah Penyutradaraan?

Penyutradaraan dalam Teater
Untuk menghasilkan sebuah karya, seorang sutradara harus melewati beberapa proses (foto: Google)

Sebagai seorang sutradara, ada beberapa proses yang harus dilalui ketika sedang menggarap sebuah pementasan. Proses penyutradaraan ini akan dilalui mulai dari proses sebelum pentas hingga selesai.

Dalam buku Drama Dalam Drama (2019: 80) dijelaskan bahwa langkah-langkah yang dilakukan dalam proses penyutradaraan adalah sebagai berikut:

Seleksi Naskah

Sutradara harus memilih dan menimbang naskah lakon mana yang akan digarap berdasarkan tujuan yang ingin disampaikan, situasi, kondisi, dan lain sebagainya. Ada pula sutradara yang membuat, menerjemahkan, mengubah, atau mengadaptasi naskah.

Penafsiran Naskah Lakon

Setelah memilih naskah, sutradara diharuskan untuk menafsirkan naskah lakon, dan biasanya sutradara juga akan memberi kesempatan kepada seluruh anggota teater untuk menafsirkan naskah yang akan dipentaskan.

Percobaan

Hasil penafsiran harus diuji coba terlebih dahulu untuk melihat kekurangannya untuk direvisi sebelum pementasan resmi.

Menentukan Peran (Casting)

Casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisa naskah yang hendak dipentaskan. Casting juga dilakukan atas beberapa hal, antara lain:

  • Kemampuan atau kecakapan: Pemeran ditentukan dari seberapa terampilnya seseorang untuk memerankan tokoh
  • Fisik atau Jasmani: Pemilihan didasarkan pada kecocokan fisik pemain dengan tokoh yang ada dalam naskah
  • Antifisik atau antijasmani: Pemilihan didasarkan pada kenyataan fisik atau jasmani yang bertentangan dengan peran yang dibawakan.
  • Emosi atau perangai: Pemilihan dilihat dari kecocokan perangai atau watak pemain dengan tokoh yang yang akan diperankan
  • Pengobatan: Pemilihan yang bertentangan dengan watak asli pemain.

Nah, karena sekarang Dulur Teater Bogor sudah tahu sedikit tentang penyutradaraan, ya. Jadi enggak usah ragu lagi buat mencoba menjadi sutradara.

Jangan khawatir soal hasilnya, karena sutradara yang hebat sekalipun pasti harus melalui masa trial and error. Tahap tersebut sangat penting untuk perkembangan seorang sutradara dalam berkarya agar bisa menjadi semakin baik.

Selamat berkarya, Lur!

Daftar Pustaka :
Mubarock, Wildan F., dkk. 2019. Drama Dalam Drama. Bogor: Langit Arbitter.
Harymawan, RMA. 1993. Dramaturgi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Satu tanggapan untuk “Sutradara dan Penyutradaraan dalam Teater

  • 6 Mei 2020 pada 4:18 pm
    Permalink

    Sangat bermanfaat…mantap min….
    Di tnggu pembahasian soal keaktoran nya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *