Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?

Bogor – Dulur Teater Bogor masih #dirumahaja ya? Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah memang berdampak pada berbagai aspek masyarakat. Termasuk kegiatan teater di kota kita tercinta ini.

Tapi ternyata hal ini tidak langsung membuat semangat berteater ikut padam. Banyak kelompok teater yang menyiasati hal ini dengan membuat kegiatan secara online. Bahkan bukan tidak mungkin pertunjukan online akan menjadi sebuah tren yang terus berkembang bahkan setelah pandemi selesai.

Tentu, pertunjukan online ini tidak akan bisa menggantikan pengalaman yang kita dapat dari menonton teater secara langsung. Hal ini pun kemudian dibahas dalam obrolan ringan Fokus Teater Bogor dalam live talk Instagram bersama Achmad Dayari (Kang Aday) selaku narasumber dari Komite Teater Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) pada Minggu (10/5/2020) lalu.

Keadaan Teater Bogor Selama Pandemi

Seperti yang kita tahu, sejak kasus pertama COVID-19 diumumkan di Indonesia pada Maret lalu, akhirnya semua lini kegiatan, baik sosial maupun ekonomi ikut terhenti. Hal ini juga berdampak pada dunia teater, karena adanya imbauan dari pemerintah untuk tidak melaksanakan kegiatan yang melibatkan banyak orang, serta kegiatan kebudayaan.

Alhasil, ada banyak kegiatan teater yang terhambat, bahkan akhirnya terpaksa diundur. Beberapa di antaranya adalah Temu Teman 2020 Lampung dan Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS).

Aday selaku perwakilan dari DK3B menyebutkan bahwa saat ini Pemerintah Kota Bogor memang belum ada langkah apapun secara langsung bagi bidang seni teater terkait dampak Covid-19. Sedangkan di Jawa Barat sendiri masih dalam tahap pendataan pelaku-pelaku kesenian. Terlebih bagi para pelaku kesenian yang memang menggantungkan penghidupannya pada kegiatan kesenian itu sendiri.

Aday juga menyebutkan bahwa Festival Drama Juang (FDJ) menjadi salah satu kegiatan teater di Kota Bogor yang terkena dampak Covid-19. Ajang lomba teater tingkat SMA/SMK sederajat ini sendiri merupakan salah satu agenda unggulan tahunan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor.

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?
Temu Teman Teater menjadi salah satu acara yang tertunda akibat pandemi (foto: FTB)

“Persiapannya seharusnya sudah mulai bulan-bulan ini, tetapi FDJ juga sepertinya akan tertunda,” tutur Aday.

Melihat banyaknya kegiatan teater yang tertunda, Aday juga menyampaikan kekhawatirannya tentang akan bertumpuknya kegiatan-kegiatan teater pada akhir tahun.

“Ada kemungkinan acara yang diundur akan bertumpuk di akhir tahun. Pemerintah sendiri menyampaikan bahwa pandemi ini diperkirakan akan berakhir di bulan Juli. Semoga setelah itu kita bisa normal kembali berkegiatan,” tambahnya.

Peralihan Media Berteater

Menanggapi kebijakan Pemerintah untuk beraktivitas di rumah serta tidak melakukan kegiatan apapun yang melibatkan banyak orang, banyak pihak kemudian memanfaatkan ruang digital. Termasuk pemanfaatannya sebagai sarana berkesenian.

Sebagian insan teater disebut-sebut enggan menonton pertunjukan secara digital. Mereka berpendapat tidak bisa merasakan perasaan yang sama dengan ketika mereka menonton pertunjukan secara langsung.

Baca Juga: Aktor Perlu Diisolasi

Saat ditanyai tanggapannya mengenai hal ini, Aday berpendapat bahwa memang akan sangat berbeda jika panggung teater dialihkan ke media elektronik. Menurutnya teater sejatinya adalah penggambaran secara langsung; tokoh dan aktornya dilihat secara langsung. Media digital ini bisa menjadi alternatif pertunjukan di masa pandemi, tetapi tidak bisa menggantikan panggung teater.

Menurutnya, panggung teater adalah panggung sesungguhnya di mana kita bisa merasakan langsung permainannya. Tetapi, walaupun tidak bisa menggantikan panggung teater secara utuh, setidaknya pertunjukan melalui media digital yang dimaksud dinilai bisa mengobati kerinduan para penikmat teater dan jadi sarana evaluasi pengemasan pertunjukan.

“Teater itu pertunjukan yang rasanya enggak bisa digantikan, meskipun direkam,” Aday menambahkan.

Menonton pertunjukan melalui media digital memang terasa seperti ada yang dipangkas dari pertunjukannya. Seperti yang kita tahu, incaran pertunjukan adalah perenungan bagi penontonnya, dan inilah yang dipangkas.

Regenerasi Sebagai Kunci

Fokus Teater Bogor sempat menanyakan tentang rencana DK3B untuk tahun 2020 ini. Aday pun menjelaskan bahwa DK3B rencananya akan melakukan perubahan kepengurusan pada Juni atau Juli mendatang. Komite Teater DK3B juga belum banyak melakukan langkah konkret untuk mendukung kegiatan teater di Kota Bogor akibat adanya beberapa keterbatasan.

“DK3B belum bisa melakukan hal yang besar karena minimnya sumber daya manusia di Komite Teater, kurangnya jangkauan kekuasaan karena Dewan (DK3B) masih dalam pengembangan. Pendanaan juga kurang mumpuni, garis koordinasinya belum jelas, sehingga kita belum bisa banyak bergerak,” bebernya.

“Semoga setelah adanya perubahan regulasi dan kepengurusan nanti bisa ada generasi muda yang masuk juga ke komite teater sehingga bisa merasakan langsung keadan di sana dan mengubah masa depan teater di Kota Bogor,” tutur Aday.

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?

Terhentinya kegiatan teater di Bogor akibat pandemi Covid-19 ini tentu bukan menjadi alasan bagi para pegiat untuk berhenti berteater. Banyak dari kita yang kemudian memutuskan untuk latihan sendiri. Tetapi bagi para pegiat teater yang masih duduk di bangku sekolah maupun kuliah, hal ini mungkin sulit dilakukan.

Menanggapi hal tersebut, Aday justru berharap bahwa orang-orang semakin cerdas memanfaatkan media digital. Pegiat teater yang masih sekolah maupun kuliah pun tidak selamanya memerlukan instruktur, mereka bisa mencari metode sendiri. Apalagi secara digital semua orang bisa mencari informasi dengan liar dari mana saja. Masalahnya hanya pada tekadnya masing-masing dengan melakukan pencariannya sendiri agar teater tersebut terus hidup.

Aday juga menyebutkan bahwa regenerasi merupakan salah satu hal yang penting dalam sebuah kelompok. Regenerasi tetap harus dibentuk, diarahkan, diperhatikan, agar masa depan kelompok teater tersebut bisa terjaga.

Regenerasi yang dimaksud ini bukan hanya regenerasi sumber daya manusianya, tetapi regenerasi cara berpikir. Kebanyakan orang teater di Bogor belum berpikir untuk masuk ke ranah ekonomi kreatif tanpa mengikis ranah estetisnya.

Pada masa sekarang, anak muda harus berpikir untuk terus mengembangkan kesenian dan orang-orang di dalamnya. Tidak sedikit orang teater tidak bertahan karena keseniannya tidak memberikan apa-apa.

Cara berpikir masyarakat teater di Bogor memang harus berkembang agar teater nantinya bukan sekadar hobi, tetapi juga bisa menjadi mata pencaharian.

Sedangkan perihal regenerasi fisik sendiri, Aday juga menyebutkan bahwa ada banyak teater sekolah yang mulai terbentuk karena Festival Drama Juang (FDJ) yang diselenggarakan tahun lalu.

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?
Festival Drama Juang, salah satu sarana regenerasi teater di Bogor (foto: metropolitan.id)

Menyinggung soal FDJ tahun lalu, ternyata banyak pegiat teater muda sarat pengalaman enggan menjadi mentor bagi para kelompok teater baru dari sekolah-sekolah peserta. Salah satu alasannya karena mereka merasa minder dengan kemampuan yang dimilikinya.

“Mengajar teater di sekolah sebetulnya mengembangkan cara berpikir kita terhadap teater itu sendiri. Tingkat kemampuan kita berkembang. Meskipun pada awalnya kemampuan mengajar teater tidak sebagus sekarang. Dan memiliki sebuah kelompok teater itu bisa menjadi salah satu media untuk merealisasikan kreativitas kita,” jelas Aday.

Bagaimana Teater Bogor Pasca Pandemi?

Pada sesi pertanyaan pada live talk Fokus Ngobrol Teater, para penonton dipersilakan untuk bertanya kepada narasumber. Penanya pertama menanyakan perihal apakah akan muncul generasi atau gaya “berteater online” di Bogor? Atau teater online hanyalah ‘pelarian’ pelepas rindu akibat pandemi ini.

Aday sendiri berpendapat bahwa setelah pandemi selesai pun fenomena pertunjukan online akan terus berlangsung, tetapi dalam bentuk yang lebih kreatif, meskipun arwah teater di atas panggung tidak bisa digantikan.

“Masih akan ada,” katanya. “Tetapi entah bentuknya seperti apa. Akan berpengaruh demi kemajuan kebudayaan dan teater juga. Tetapi tetap, kekuatan teater berada di pertunjukan langsungnya.”

Salah satu penonton lain juga ada yang menanyakan perihal kenapa kegiatan teater di kota terlihat lebih ramai dibandingkan dengan di Kabupaten Bogor.

Menurut Aday, salah satu kendalanya adalah wilayah kabupaten yang terlalu besar, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan seni teaternya tidak tersentralisasi. Berbeda dengan di kota yang kegiatan perteaterannya sudah lebih terpusat dan wilayahnya juga tidak seluas kabupaten. Karena terkendala geografis, akhirnya kegiatan teater di kabupaten lebih banyak terpusat di distriknya masing-masing.

“Kesenian butuh sentralisasi untuk kemajuannya. Kalau tidak, orang akan sulit mencari bahan atau orang lain yang bisa diajak berkesenian bersama karena terpisah-pisah jaraknya. Di kabupaten bukannya tidak ramai, tetapi tidak tersentralisasi. Pemerintah daerah mungkin bisa membantu melakukan sentralisasi ini,” tambah Kang Aday.

Respon penonton Talk Live pun tidak surut. Pertanyaan selanjutnya tentang gedung kesenian yang hanya ada di kota (Gedung Kamuning Gading), sedangkan di kabupaten belum ada.

Menyanggah hal ini, Aday sepakat bahwa Gedung Kamuning Gading tidak hanya digunakan untuk kegiatan kesenian. Ketambahan lagi fasilitas yang dimiliki oleh gedung ini masih kurang representatif untuk kesenian. Oleh karenanya, agak sulit kalau disebut gedung kesenian.

Aday pun lanjut menjelaskan bahwa ada banyak kelompok teater di daerah kabupaten yang tetap bisa melakukan pertunjukan meskipun tidak ada gedung kesenian. Ada atau tidaknya gedung pertunjukan memang seharusnya tidak menjadi masalah karena pertunjukan bisa dilakukan di mana saja.

Menyikapi pertanyaan terakhir perihal perkembangan kesenian pasca pandemi Covid-19, Aday menegaskan bahwa teater di Bogor akan tetap dapat berkembang, asalkan orang-orang di dalamnya juga mau berkembang. Ini terlepas dari adanya pandemi atau tidak.

Selera Penonton Juga Kena Imbas

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?

Imbas pandemi pun hampir bisa dipastikan berpengaruh terhadap antusiasme penonton. Salah satu unsur seni pertunjukan ini dipastikan akan terganggu karena penonton mungkin sudah terbiasa dengan media-media digital seperti yang digunakannya selama masa karantina berlangsung. Mungkin akan banyak juga penonton yang memilih untuk menggunakan waktu dan dananya untuk melakukan kegiatan lain, daripada menonton pertunjukan teater.

Senada dengan hal tersebut Aday mengatakan pasca pandemi ini pasti akan ada perubahan pola pikir para penonton terhadap teater.

“Makanya sebagai pegiat teater, harus punya tujuan yang jelas, dan buat karya yang ada manfaatnya untuk penonton, sehingga kita bisa menargetkan penonton seperti apa yang akan datang menonton. Yang paling penting adalah tingkat kreativitas dari penyaji pertunjukan sehingga tiap pertunjukan memiliki perkembangan yang signifikan. Jangan sampai pertunjukan hanya menjadi pengguguran program kerja,” tukasnya.

Melihat selera tontonan masyarakat yang diperkirakan akan lebih condong ke media digital pasca pandemi, bagaimana sebaiknya para pegiat teater menanggapi hal ini? Apakah para pegiat teater perlu mematahkan hal ini, atau justru menyesuaikan selera penonton?

Nyatanya, pegiat teater tidak perlu takut kehilangan penonton, karena penonton teater adalah penonton yang ingin mendapat suguhan berbeda. Kebanyakan penonton media digital jarang yang menonton pertunjukan teater, sehingga pegiat teater tidak perlu menyesuaikan selera penonton. Lebih baik membuat pertunjukan yang lebih kreatif sehingga penonton media digital pun bisa tertarik menonton teater.

Siasati Pandemi dengan Regenerasi Cara Berpikir

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?
Achmad Dayari, Komite Teater DK3B. Pegiat teater asal Sukabumi yang lama berproses di Kota Bogor.

Di Kota Bogor, hingga saat ini sudah bukan rahasia bahwa masih ada budaya penonton paksa. Tentu budaya ini akan membuat kemampuan publikasi dari penyelenggara pertunjukan jadi tidak terasah.

Tetapi menurut Aday, hal ini juga bisa dilihat sebagai salah satu teknik untuk mendapatkan penonton secara langsung. Tetapi manajemen pertunjukannya juga harus punya aturan, dengan tidak menerima penonton yang jauh melebihi kapasitas karena nanti pertunjukan akan menjadi tidak kondusif.

“Dan dari pengkarya juga harus bisa bertanggung jawab atas pengkaryaannya, harus ada manfaat bagi penonton. Sebagai penyaji teater, kita akan memberikan stimulus kepada penonton dan akan berimbas jangka panjang. Makanya kualitas pertunjukan harus sangat diperhatikan, supaya penonton teater tidak hilang,” tambahnya.

Baik saat pandemi maupun pasca pandemi, Aday menyatakan bahwa dalam dunia teater yang paling penting adalah tidak berhenti berkreasi.

“Selama pandemi ini, para pegiat teater bisa berlatih, membuat naskah, mencari ide pertunjukan, dan kemudian bisa mencurahkan ide-ide tersebut dalam bentuk pertunjukan pasca pandemi. Jangan jadikan pandemi sebagai alasan untuk tidak berkarya, tapi jadikan sebagai batu loncatan. Semoga ada regenerasi pola pikir demi perkembangan di Kota Bogor untuk saat ini, dan di masa depan,” pungkasnya.

Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *