Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah

Bogor – Perkembangan teater di Bogor tidak lepas dari munculnya kelompok-kelompok teater baru. Banyak kelompok teater baru yang terdiri atas beragam tingkatan usia dan golongan. Salah satu kelompok teater yang saat ini sedang banyak bermunculan adalah kelompok teater sekolah.

Kebanyakan kelompok teater sekolah ini biasanya berawal dari kegiatan ekstrakurikuler teater dari sekolah masing-masing. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian berkembang menjadi kelompok teater yang cukup besar dan kemudian menggelar pementasan secara mandiri; bahkan tanpa bantuan dari sekolahnya sendiri.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Teater sekolah berawal dari ekstrakurikuler teater (Foto: aboutrinny.blogspot.com)

Meskipun perkembangan teater sekolah dirasa semakin lama semakin meningkat, tetapi hingga saat ini masih banyak kelompok yang diakui belum mendapat dukungan dari sekolah mereka secara penuh. Beberapa kelompok teater sekolah bahkan disebut tak jarang mendapat penentangan untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan teater.

Disinyalir, ini merupakan dampak dari belum meratanya pemahaman mengenai teater di dunia sekolah, khususnya Bogor.

Hal ini kemudian dibahas dalam obrolan ringan Fokus Teater Bogor bersama Ahmad Nur Ali (Ayenk) dari Sanggar Seni Teater RAS dalam live talk Instagram beberapa waktu lalu.

Berangkat dari Teater Sekolah

Ayenk bisa dibilang merupakan salah satu pegiat teater yang telah menjadi saksi perkembangan teater sekolah di Bogor. Sebelum aktif di Sanggar Seni Teater RAS, ia sendiri pernah aktif di Teater Kompeni, SMKN 1 Bogor.

Karena kecintaannya pada teater, ia kemudian melanjutkan aktivitas teaternya di bangku kuliah dengan bergabung bersama kelompok Tema, Universitas Gunadarma. Setelah itu, akhirnya ia bersama beberapa orang kawannya membentuk Sanggar Seni Teater RAS.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Ayenk berangkat dari teater sekolah sebelum membentuk Sanggar Seni Teater RAS (Foto: Instagram @bangayenk)

Ayenk mengatakan bahwa ketika ia masih bersekolah di SMKN 1 Bogor, ekskul teater yang ada di sana masih belum memiliki pelatih. Setelah ia lulus, ia pun mengajukan untuk mencari pelatih dari luar kepada pihak sekolah. Tetapi karena masih belum juga menemukan pelatih, akhirnya Ayenk sendirilah yang mengisi tempat kosong tersebut.

Kemudian pada tahun 2012, barulah Ayenk mulai menjadi pelatih teater di SMK Bumi Permata. Pasca FDJ 9 yang dilaksanakan pada tahun 2019 lalu, Ayenk juga mulai menjadi pelatih untuk Teater Walet, SMAN 6 Bogor.

Jadi Pelatih di Teater Sekolah

Dari awal obrolan, ada beberapa cara paling umum yang biasanya ditempuh oleh seorang pelatih sebelum masuk ke teater sekolah. Ada yang diajak oleh muridnya langsung hingga akhirnya sekolahnya menyetujui, ada pula yang sekolahnya sendiri yang mencari pelatih.

Saat ditanya perihal tersebut, Ayenk mengaku sudah melewati berbagai jalan sebelum akhirnya bisa menjadi pelatih di sebuah kelompok teater sekolah.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Ayenk memiliki banyak pengalaman melatih teater sekolah (Foto: Instagram @bangayenk)

“Kebetulan di SMKN 1 dan SMK Bumi Permata beda. Kalau di Bumi Permata ngelangkahin sekolah, ada sekitar 3 tahun mengajar sama sekali enggak dilihat sekolah. Tapi justru semangat anak-anaknya yang bikin bertahan, walaupun dari pihak sekolah kurang mendukung. Akhirnya pas FDJ (Festival Drama Juang) tahun 2013, pentas teaternya ditonton sama (masyarakat sekolah dari) Bumi Permata, makanya teater jadi diperhitungkan. Kalau di SMKN 1 karena saya alumninya jadi lebih dipercaya untuk jadi pelatih. Sedangkan kalau di SMAN 6, awalnya jadi mentor untuk FDJ 9, tapi kemudian diajak sama sekolahnya, karena melihat semangat anak-anaknya yang bagus,” cerita Ayenk.

Fokus Teater Bogor kemudian sempat menanyakan cara apa yang paling ideal untuk menjadi pelatih dari kelompok teater sekolah. Menurut Ayenk, cara yang paling tepat adalah menjadi pelatih yang diterima dulu oleh sekolahnya. Kemudian barulah kita mencari tahu karakteristik dari sekolah dan anggota kelompok teater di sekolah itu sendiri. Kita juga harus fleksibel agar bisa dengan mudah diterima oleh anak-anak dan orang-orang di lingkungan sekolahnya.

“Tahu dulu cara mainnya, baru kita main lebih cantik,” tutur Ayenk .

Bagaimana Memasyarakatkan Teater di Sekolah?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, salah satu sebab mengapa kelompok teater di sekolah seringkali belum mendapat dukungan adalah karena masyarakat sekolah dinilai belum memahami benar tentang teater. Karenanya, banyak kelompok teater sekolah yang kemudian harus mencari cara agar bisa tetap bertahan bahkan mendapat dukungan.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Mengajak masyarakat sekolah menonton pertunjukan teater adalah salah satu cara memasyarakatkan teater (Foto: glovetheatre.org)

Mengenai hal ini, Ayenk juga memiliki perspektif sendiri. Menurutnya, sebelum kita berteater ke luar sekolah, kita harus kembali dulu ke dalam sekolah. Masyarakat sekolah itulah yang akan menjadi penonton utama dari sebuah kelompok teater sekolah. Sebelum bisa dipercaya untuk memasyarakatkan teater di luar sekolah, kelompok ini harus bisa lebih dulu memperkenalkan teater di dalam sekolahnya masing-masing.

“Memasyarakatkan teater ini memang dalam arti pada umumnya. Tidak melulu harus mengajak secara aktif ke unsur-unsur seni pertunjukannya, tetapi bisa juga dengan cara ngajak nonton teater ke masyarakat sekolah. Dari sini, kita minimal akan tahu seberapa jauh pencapaian teater kita. Selain itu, kita juga akan membuat masyarakat sekolah untuk terbiasa pada kegiatan teater. Karena seperti yang kita tahu, teater memang unik dibanding ekstrakurikuler lainnya,” tutur Ayenk ketika ditanyai oleh Fokus Teater Bogor.

Adakah Cara yang Lebih Efektif?

Bukan cerita aneh lagi jika hingga saat ini, baik dari kalangan guru maupun orang tua, kerap memandang teater dengan sebelah mata. Cara memasyarakatkan teater di dunia sekolah dengan mengajak pihak-pihak tersebut melihat proses dan pertunjukannya secara langsung, nyatanya masih belum cukup untuk bisa menghapuskan stigma teater yang masih ada.

Selain itu memasyarakatkan teater di dunia sekolah itu memang intensitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan membuat karya. Kebanyakan dari guru sendiri pun berpendapat bahwa teater masih membawa pengaruh yang tidak baik bagi murid-murid yang ada di sekolahnya.

Menanggapi hal ini, Ayenk menjelaskan bahwa kuncinya adalah komunikasi dengan pihak sekolah harus terjalin dengan baik.

“Kita nanya, apa yang bikin guru enggak suka? Misalnya karena ikut teater, nilai anaknya jadi jelek. Nah, di situ kita ambil hal dari teater yang bisa diimplementasikan ke pelajaran. Misalnya kalau di SMK ada jurusan pemasaran. Dengan ikut teater, anak akan jadi lebih percaya diri dan berani berbicara di depan umum. Kuncinya komunikasi. Bagaimana kita pintar-pintar komunikasi,” jelas Ayenk.

Teater “Si Anak Tiri”

Bagi para Dulur Teater Bogor yang sudah pernah atau masih merasakan menjadi anggota dari kelompok teater sekolah pasti sudah tidak heran lagi kalau ekstrakurikuler teater di sekolah seringkali “dianaktirikan”. Kebanyakan, ketika anggota kelompok teater sekolah ini melakukan kegiatan di sekolah, seringkali mereka disuruh untuk pulang meskipun belum waktunya.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Meskipun sering “dianaktirikan” teater sekolah tetap berkembang (Foto: liputan6.com)

Ayenk pun mengakui bahwa dirinya dan kelompok teater sekolah yang dibinanya merasakan hal yang sama. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sekolah.

“Awalnya juga sama kayak gitu. Tapi karena sudah percaya sama kita, jadi enggak. Misalnya tadinya cuma dibolehin latihan sampai jam 6, tapi akhirnya sampai dikasih kunci sama penjaga sekolah. Kalau kita mau ngobrol baik-baik dengan pihak-pihak tersebut, pasti bisa. Karena mereka masih punya stigma teater yang buruk. Teater yang urakan, enggak bisa diatur, enggak disiplin,” tutur Ayenk.

Ia juga menambahkan bahwa untuk mengubah stigma negatif itu harus juga ada peranan dari para anggota teater sekolah itu sendiri. Pihak sekolah pun harus menghargai perubahan teater sekolah demi menghapuskan stigma negatif tersebut.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Stigma negatif terhadap teater perlu dihapuskan (Foto: Karawang Today)

“Kebanyakan anak-anak bandel malah mau ikut teater. Ini yang harus dikasih pemahaman ke guru, bahwa anak-anak ini bisa berubah, dari yang kurang baik jadi baik. Saat mereka berubah terus enggak dihargai efeknya malah buruk ke anaknya. Mengubah stigma itu harus ditekenkan ke anak-anaknya. Saya pribadi enggak pernah bangga kalau anak binaan saya bisa menang festival, sementara perilakunya di sekolah masih jelek,” tambahnya lagi.

Masalah izin orang tua juga menjadi salah satu penghambat yang paling sering dihadapi oleh kelompok teater sekolah. Orang tua kini dinilai jauh lebih protektif.

Menyiasatinya, Ayenk pun membagi jadwal latihan kelompok binaannya. Pada hari sekolah, memang jalan yang terbaik adalah mengikuti waktu latihan yang sudah diberikan oleh sekolah. Sedangkan ketika libur, barulah mereka bisa lebih leluasa berlatih teater. Hal ini juga disebutnya efektif untuk menyelamatkan kualitas pementasan.

Intinya, untuk bisa mendapat dukungan sekolah, kelompok teater di sekolah tersebut juga harus menjadi lebih disiplin dan rapi, agar stigma negatif anak teater itu tidak terus melekat.

Ketika ditanya perihal apakah ada perbedaan ketika melatih teater di SMA dan di SMK, Ayenk mengaku bahwa di sekolah manapun tetap ada tantangannya tersendiri.

“Sebenarnya sama saja, karena awalnya kita harus menyatukan visi misi. Ada sekolah yang ngasih kelonggaran, tapi anaknya susah diatur, ada yang sekolahnya ketat, tetapi anak-anaknya justru semangat. Cuma balik lagi kita sebagai pelatih harus sadar bahwa tujuan mereka sekolah itu ya belajar. Kalau lagi belajar cukup satu persen untuk mikirin teater, dan kalau lagi teater, cukup satu persen untuk mikirin pelajaran,” Ayenk menuturkan.

Soal “Teater Festival” di Bogor

Di Bogor sendiri, ada sebuah istilah di kalangan teater sekolah yang kerap meninggalkan kesan yang negatif; “teater festival”. Disebut demikian bukan karena kelompok teater sekolah ini memfokuskan pengkaryaannya pada genre selayaknya teater karnaval, tetapi karena kelompok teater ini hanya berlatih dan membuat pertunjukan untuk perlombaan.

Menurut Ayenk sendiri, positif atau negatifnya ‘teater festival’ ini tergantung kepada cara kita memandangnya. Jika dilihat dari sisi idealisme berteater murni, istilah tersebut akan dipandang negatif, karena hanya akan berlatih teater jika ada event. Sedangkan dilihat dari sisi teater sekolah yang baru terbentuk, teater seperti ini mungkin justru positif karena bisa menjadi perangsang untuk kelompok teater baru tersebut sehingga melahirkan lebih banyak karya.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Teater festival, negatif atau positif? (Foto: biem.co)

Tidak bisa dipungkiri, bahwa memang ada beberapa sekolah yang mengkhususkan teater hanya untuk ikut perlombaan. Tetapi sebagai salah satu pelaku teater di kota Bogor, Ayenk menganggap hal ini jelas hal yang salah.

“Seni itu bukan buat di-festivalin, bukan buat diadu. Kalaupun memang harus dilombakan, pasti balik lagi ke selera juri. Sedangkan yang nonton pertunjukannya kan bukan hanya juri,” tukas Ayenk.

Dari Teater, Kembali Berteater (?)

Patut diakui, tidak banyak anggota teater sekolah yang kembali berteater setelah lulus sekolah, baik di kampusnya atau bergabung dengan sanggar profesional. Hal ini tentu tidak bisa dipaksakan karena keinginan atau kemampuan untuk berteater akan berbeda-beda untuk masing-masing individu.

Ayenk pun berpendapat hal yang sama. Ia menganggap bahwa setiap orang memiliki alasannya masing-masing untuk melanjutkan maupun tidak melanjutkan berteater setelah lulus dari sekolahnya.

“Karena ada beberapa dari mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga mereka masing-masing sehingga mengharuskan mereka untuk bekerja. Banyak juga yang sebenarnya masih pengin berteater, tetapi mereka harus memilih. Enggak bisa melanjutkan teaternya karena harus bekerja,” jelasnya.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah bogor
Mau lanjut berteater? (Foto: liputan6.com)

Kemudian, Ayenk juga berpendapat bahwa lanjut atau tidaknya anggota teater sekolah setelah lulus juga dipengaruhi dengan pengalaman mereka semasa sekolah. Jika mereka merasa mendapatkan sesuatu dari teater, maka kemungkinan besar mereka akan terus berproses. Ada pula yang memilih untuk tidak melanjutkan karena merasa tidak siap dengan transisi dari teater sekolah ke teater kampus.

“Kalau saya pribadi ke anak-anak saya selalu tekankan, bahwa masalah lanjut atau enggak, kembali lagi ke diri mereka masing-masing. Kalau teater bermanfaat dan bikin mereka nyaman, ya lanjutkan,” kata Ayenk.

“Karena pas kuliah nanti fokus mereka akan beda-beda lagi. Kalau ada yang enggak lanjut, mungkin kesalahan dari (masa) SMA-nya. Mungkin mereka terlalu nyaman sama teater sekolahnya, jadi mereka susah adaptasi di teater kampusnya,” imbuhnya.

Ayenk pun sempat mengatakan, biasanya ia merangsang mereka untuk masuk teater kampus dengan mengajaknnya menonton pertunjukan dari teater kampus.

Mirisnya, ketika mereka lihat pertunjukannya, tak jarang ekspektasi mereka langsung turun. Akhirnya anak sekolah pun jadi enggak tertarik.

Prestasi VS Kualitas

Jika kita bicara soal teater sekolah, pasti tidak akan lepas dari dilema di mana kita harus mengejar dua hal; prestasi dan kualitas pertunjukan.

Di satu sisi, mengejar kualitas pertunjukan memang membutuhkan waktu dan usaha yang tidak sedikit, dan hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Sementara di sisi lain, tidak bisa dipungkiri kalau teater sekolah memang membutuhkan prestasi agar bisa dipercaya oleh sekolahnya masing-masing.

Saat ditanyai pendapatnya tentang hal ini, Ayenk sendiri menyatakan bahwa dirinya bukan tipe orang yang mengikuti festival atau perlombaan teater dengan tujuan menjadi yang terbaik dengan mengikuti arahan panitia. Ia selalu menekankan kepada kelompok teater sekolah binaannya untuk selalu menampilkan kualitas yang terbaik.

“Enggak munafik, kita juga butuh prestasi. Karena ketika enggak ada hasil, orang tua pasti yang akan ngomel. Efeknya, mereka enggak akan diizinin untuk berteater lagi. Tetapi, yang didahulukan ya anak-anak sekolahnya dulu, baru prestasinya.”

“Kalau yang terlalu ngejar prestasi, secara sendirinya pelatih akan tersadar bahwa prestasi selanjutnya bukan di teater sekolah. Prestasi tingkat selanjutnya adalah bagaimana teater sekolah dipandang oleh dunia teater itu sendiri. Dan kalau kelompok teater sekolah berhasil dalam hal ini, pasti lebih membanggakan dibanding hanya memenangkan perlombaan. Ada kalanya anak-anak terlalu fokus sama kemenangan. Dan tugas pelatih adalah untuk menyadarkan anak-anak apa tujuan mereka berteater sebelumnya,” tutur Ayenk.

Teater Sekolah Harus Mandiri

Melihat keadaan kelompok-kelompok teater sekolah di Bogor saat ini, sebenarnya masih banyak yang bisa dikembangkan agar Bogor lebih maju lagi. Sayangnya, adanya keterbatasan-keterbatasan dari sekolah dan dinas terkait juga menjadi salah satu hambatannya.

Beberapa waktu terakhir ini, ada pula peraturan pemerintah yang melarang pungutan liar dalam kegiatan ekstrakurikuler apapun. Hal ini juga termasuk pada pungutan uang kas.

Dari sisi pendanaan, kelompok teater sekolah mungkin akan sangat mengandalkan pendanaan dari sekolah, maupun dinas terkait. Padahal, seperti yang mungkin kita semua sudah dengar, ada beberapa program kesenian yang telah dihapuskan dari agenda rutin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor. Tetapi apakah hal ini selalu berdampak negatif pada perkembangan teater sekolah di Bogor?

Menurut Ayenk, ada sisi positif dan negatif ketika kelompok teater sekolah kurang diperhatikan oleh dinas. Negatifnya, tentu kelompok teater sekolah ini akan kekurangan wadah untuk berkarya. Tetapi di sisi lain, hal ini juga dapat mendorong mereka untuk bergerak sendiri dan tidak bergantung pada pihak lain.

“Karena kalau teater sekolah enggak bisa ngapa-ngapain tanpa dana dari sekolah, nanti enggak akan maju. Sekolah enggak ngasih dana pun kita masih bisa jalan, malah jadi lebih menghargai prosesnya. Banyak dari keterbatasan itu malah jadi kelebihan buat kita, dan bisa jadi proses pendewasaan,” tukas Ayenk.

Selain masalah keterbatasan dana untuk kegiatan teater sekolah, masalah lain yang juga dihadapi oleh kelompok-kelompok teater sekolah di Bogor saat ini adalah masalah kesejahteraan pelatihnya. Kebanyakan pihak sekolah belum bisa memberikan honor yang layak untuk para pelatih teater.

Ayenk sendiri menyatakan bahwa untuk masalah ini memang tidak banyak yang bisa dilakukan, karena pengeluaran sekolah pun sekarang diatur oleh pemerintah pusat.

“Kalau dari pusat cuma sekian, ya sudah sekian. Malah ada pembahasan bahwa di ekstrakurikuler tidak boleh ada pungutan liar. Bisa-bisa uang kas dianggapnya pemungutan liar, dan pelatihnya bisa ditangkap. Kalau begini terus, ya siap-siap saja. Lama-lama teater ini akan habis,” kata Ayenk.

Ayenk sempat menyampaikan harapannya bahwa meskipun pihak dinas terkait belum bisa memberikan bantuan dana, tetapi mereka bisa membantu perihal perizinan ketika ada perlombaan. Seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, teater sekolah masih dipandang sebelah mata, sehingga masih agak sulit mengajukan dispensasi kepada pihak sekolah saat ada kegiatan.

Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah Bogor
Pentingnya sosialisasi kegiatan teater kepada pihak sekolah (Foto: Dipokersen)

“Seperti di FDJ kemarin, karena ada surat dari dinas jadi acaranya jelas, guru-gurunya juga mendukung. Menurut saya, wadahnya juga harus ada lagi selain FDJ, supaya mereka enggak perlu nunggu satu tahun buat menggarap satu event saja. Seandainya dari dinas enggak bisa, mungkin bisa dari teater independen, misalnya bikin parade atau bikin pembinaan-pembinaan,” katanya lagi.

“Teater sekolah udah harus bubar kalau ada, tapi kayak enggak ada. Kumpul kalau ada event doang; enggak ada pergerakannya. Karena esensi dari teaternya sendiri enggak akan dapat. Bilangnya anak teater, tapi enggak kayak anak teater. Kasihan sama teman-teman yang benar-benar berjuang,” pungkasnya.

Baca Juga: Teater Bisa Apa Pasca Pandemi?

3 tanggapan untuk “Memasyarakatkan Teater di Dunia Sekolah

  • 7 Juni 2020 pada 7:16 pm
    Permalink

    Keren Bang Ayeng👍.
    Ini salah satu bacaan yang harus di baca sama orang yang mandang terater sebelah mata.
    SemangArtt Terusss Bang🔥.

    Balas
  • 7 Juni 2020 pada 8:59 pm
    Permalink

    Pengen ikutan lagii rasanyaa😭😭 keren banget ka ayenk 🤗🤗

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *