Perempuan Dalam Lingkaran

Bogor – Setidaknya selama sepuluh tahun terakhir, ada sebuah stigma yang berkembang dalam masyarakat teater Bogor, yang hingga kini masih sulit untuk dihilangkan. Perempuan di dalam lingkaran teater, khususnya di Bogor, masih dianggap memiliki kelemahan dari berbagai perspektif. Stigma seperti inilah yang kemudian memaksa para perempuan keluar dari lingkaran teater sehingga regenerasi pegiat teater perempuan semakin terancam.

Hal ini juga yang kemudian dibahas dalam obrolan ringan Fokus Teater Bogor bersama Laura Bernadethe dari Kelompok Belajar Teater (KeBeT) dalam live talk Instagram beberapa waktu lalu.

Kecintaan Terhadap Teater

Laura merupakan satu di antara segelintir pegiat teater perempuan di Bogor yang masih terus berteater. Sebelum aktif bersama KeBeT, ia pernah aktif di beberapa kelompok teater lainnya.

Laura sendiri pertama kali terjun di dunia teater ketika ia masih duduk di bangku SMK, yakni di SMKN 1 Bogor. Setelah lulus SMK, ia kemudian melanjutkan proses teaternya di Teater Karoeng Universitas Pakuan. Selain itu, ia juga sempat aktif di Studi Teater Dipokersen, kemudian barulah ia aktif berproses di KeBeT.

Perempuan Dalam Lingkaran
Laura sudah berteater sejak SMK (foto: Instagram @laurabernadethe)

Saat ditanya mengenai hal yang membuatnya jatuh cinta pada dunia teater, Laura mengaku bahwa dirinya baru merasa benar-benar jatuh cinta pada teater selama sekitar lima tahun belakangan, Alasannya, karena ia merasa teater telah banyak menolongnya untuk menghadapi kenyataan hidup.

“Baru jatuh cinta sekitar tiga sampai lima tahun belakangan ini. Kalau tertarik sih, pas awal datang ke Fakultas Sastra (Universitas Pakuan), tertarik untuk melanjutkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya di kampus. Cinta karena like it or not, disadari atau tidak, teater banyak menolong gua untuk menghadapi kenyataan hidup,” tutur Laura.

Perempuan Sebagai Aktor

Seringkali ada anggapan yang menyatakan bahwa seorang aktor baru pantas disebut seorang aktor ketika sudah memiliki prestasi. Sementara bagi para aktor perempuan, kesempatan untuk mencetak prestasi ini bisa dibilang masih minim.

Tidak hanya itu, para aktor perempuan juga seringkali sulit mendapat pengakuan dari orang lain, karena mayoritas aktor adalah laki-laki. Laura kemudian mengutarakan pendapatnya akan hal ini.

“Pertama, gua enggak sepaham sama anggapan yang menyatakan bahwa lu pantas disebut aktor kalau sudah punya prestasi. Karena buat gua, penghargaan itu asalnya dari orang lain. Bagaimana kalau dia memang menggeluti semua ilmu keaktoran, tapi tujuannya bukan buat mencari penghargaan? Kalau ada yang nanya gua aktor, gua iyain. Kalau ada yang nanya, ‘Emang lu mampu?’ gua mampuin. Karena gua tahu, proses jadi seorang aktor itu enggak mudah. Dan cuma di teater yang enggak ada menopause.” ujar Laura.

Sexist Dalam Lingkaran

Tidak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini, perilaku-perilaku sexist masih bisa ditemukan dalam lingkaran teater, baik dalam organisasinya, maupun dalam prosesnya. Seringkali perempuan dijadikan cadangan ketika tidak ada anggota lain yang bisa diajak untuk berproses oleh sutradara.

Ketika ditanyai perihal hal ini, Laura sendiri berpendapat jika semua itu pasti ada alasannya. Tetapi jika perempuan harus dijadikan cadangan atau pilihan terakhir, ia tidak setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, perempuan dalam lingkaran teater harus bisa menjadi dirinya sendiri.

“Walaupun karakternya perempuan banget enggak masalah. Karakter lu tetap karakter lu yang asli, tetapi lu punya kapabilitas untuk berada di atas panggung. Perempuan harus berani speak up dan jadi dirinya sendiri ketika ada yang enggak sejalan dengan yang seharusnya,” Laura menjelaskan.

Ia juga sempat menyebutkan bahwa semua garapan yang telah dilewatinya merupakan sebuah momen bagi dirinya untuk bisa menonjol dibandingkan dengan yang lain, baik di depan layar maupun di belakang layar. Ia pun membagikan salah satu pengalaman berkesannya pada Fokus Teater Bogor.

Perempuan Dalam Lingkaran
Laura saat terlibat dalam pementasan “Nyonya dan Nyonya” (foto: Instagram @dipokersen)

“Ketika itu gua dapat kesempatan untuk terlibat dalam garapan Nyonya dan Nyonya, tahun 2010, dan sutradaranya Almarhum Abah Cherry (Studi Teater Dipokersen). Momen itu buat gua enggak pernah lepas dari ingatan gua. Saat itu gua merasa bahwa gua ini betul-betul bukan apa-apa. Ilmu yang gua tahu sebelumnya di kampus, saat itu dimentahin. Dan gua justru merasa ada kematangan jiwa di sana,” ceritanya.

Kelanjutan Proses Teater

Bagi kebanyakan perempuan yang aktif berteater, proses berteater mereka harus terhenti ketika mereka mulai berkeluarga. Ada yang hanya berhenti sementara, tetapi ada pula yang harus berhenti total karena keadaan yang tidak memungkinkan. Hal tersebut juga ternyata disaksikan Laura, ketika teman-teman seangkatannya harus satu per satu meninggalkan lingkaran teater.

“Ketika lu tanya, ‘Apakah lu masih berteater?’, jawabannya iya, masih. Tapi itu bukan dalam konteks panggung, bukan garapan, melainkan dalam semua pekerjaan gua, itu gua berteater. Mayoritas teman-teman gua enggak lanjut berteater karena mereka melanjutkan kehidupan mereka dan kurang kuat untuk mempertahankan apa yang menjadi passion mereka. Banyak yang harus menikah dan kerja. Biar bagaimanapun, perempuan bebannya lebih berat di keluarga,” Laura menuturkan.

Kendala Dalam Berproses

Setiap orang pasti memiliki kendalanya masing-masing ketika berteater. Ada yang kendalanya dari faktor internal maupun eksternal. Laura sendiri mengaku bahwa dirinya juga mengalami banyak kendala dalam berproses teater. Tetapi ia tidak menyerah dan setiap kendala maupun kesulitan yang dihadapinya justru membuatnya penasaran dan menjadi penyemangatnya untuk terus berproses. Dan saat ini, kendala terbesar yang dialami oleh Laura adalah perihal waktu. Ia harus memutar otak untuk membagi waktunya berteater dengan pekerjaannya.

“Hati gua sebenernya rindu ada di atas panggung. Tetapi pada akhirnya, panggung gua adalah meditasi. Semua elemen yang ada di teater itu penyeimbang gua untuk bisa bersosialisasi di luar teater. Karena dari teater kita tahu mengenai apa itu emosi. Jadi pesan gua, jangan dipisah-pisahkan. Seharusnya semua ruang, baik ruang teater, keluarga, maupun kerjaan, diisi dan jadi satu kesatuan,” tuturnya.

Perempuan Dalam Lingkaran
Banyak kendala yang dialami perempuan saat berproses dalam teater (foto: Rappler)

Sebagai salah satu perempuan yang sudah cukup lama berteater di Bogor, Laura juga melihat adanya perbedaan kendala yang dihadapi di masa sebelumnya dengan masa sekarang. Bukan hanya teater, tetapi budaya secara umum saja masih dianggap kuno, sehingga banyak tantangannya ketika dilakoni.

“Dulu, eksistensi perempuan itu akan ada pada ketika dalam hidupnya sudah mau berkeluarga. Mereka yang masih ada memang bisa dihitung jari. Tapi kalau gua liat perempuan yang ada sekarang, sekalipun cuma sedikit, tetapi dia punya banyak angle yang bisa dilihat. Faktanya, perempuan memang akan lebih sedikit berada dalam ruang teater, karena mereka akan berada pada fase menikah. Banyak yang akhirnya menyerah karena ada segala kendalanya,” Laura menambahkan.

Untuk memberikan perspektif lain mengenai hal ini, Fokus Teater Bogor juga menghadirkan Siti Fatimah Suria Puteri, salah satu pegiat teater perempuan yang hingga kini masih aktif berteater di Studi Teater Dipokersen, meskipun telah berkeluarga. Ia menjelaskan kendala yang pernah ia alami ketika berteater semasa kuliah.

“Sebenarnya kalau zaman gua itu pas kuliah memang kendala waktu sama kuliahnya. Banyak teman-teman yang akhirnya berhenti karena mereka membuat skala prioritas sendiri, teater tidak sesuai ekspektasi, atau tujuan mereka masuk teater sudah terpenuhi. Kalau anak sekolah, persoalan izin pasti sama orang tuanya,” jelas Puteri.

Puteri juga sempat membagikan pengalamannya mengenai kendala yang dihadapinya saat ini dalam berteater. Ia mengaku ada perbedaan yang signifikan antara berteater sebelum dan sesudah mempunyai anak.

“Ketika belum punya anak, teater masih nomor satu. Bahkan ketika kerja bela-belain pulang cepat buat latihan. Tapi pas punya anak, jadi menurun prioritasnya. Bukan berhenti, cuma ditunda saja. Gua yakin kalau nanti akan ada waktunya lagi untuk berproses,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa ada banyak orang yang memiliki keinginan besar untuk berteater, tetapi mengalami kendala yang asalnya bukan dari diri sendiri (eksternal).

“Banyak yang keinginannya besar, tapi kendalanya bukan dari diri sendiri, sampai akhirnya mereka harus berhenti. Berhenti di sini adalah persoalan teknisnya, bukan kontribusinya. Perempuan walaupun sudah bekerja seringkali orang tuanya masih protektif, agak beda sama laki-laki.”

Sejalan dengan penuturan Puteri, Laura pun menyampaikan bahwa banyak orang tua yang sebenarnya hanya merasa khawatir ketika anaknya berteater karena belum paham mengenai hal itu.

“Kita harus cari seberapa penting teater di hidup kita. Nanti lu akan menemukan cara untuk menjelaskan ke orang tua, sampai akhirnya mereka bisa mengerti dan memberikan kepercayaan. Misalnya bawa orang tua nonton teater. Banyak orang tua yang sebenarnya cuma khawatir,” kata Laura.

Selain beberapa kendala yang telah disebutkan sebelumnya, perempuan dalam lingkaran teater juga mengalami berbagai kendala lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang merasa tidak nyaman dengan komunitasnya atau karena gap personal yang justru dimulai oleh anggota laki-laki. Laura sendiri mengaku bahwa dirinya belum pernah mengalami kendala-kendala tersebut.

“Kalau gua, sejauh pengalaman gua belum pernah menghadapi kendala ini. Gua yakin komunitas gua itu mau mendengar dan terbuka untuk siapapun. Ketika gua berorganisasi, apapun yang menjadi ganjalan gua, gua termasuk orang yang speak up dan menyelesaikannya. Semuanya bisa didiskusikan,” Laura menukas.

Perempuan Dalam Lingkaran
Hingga saat ini, teater di Bogor masih didominasi laki-laki (Foto: joind bayuwinanda – wordpress.com)

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan memang lebih rawan menjadi korban pelecehan. Dan sayangnya, dunia teater juga ternyata tidak lepas dari hal ini. Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka laki-laki juga menjadi salah satu penyebab terhambatnya regenerasi perempuan dalam lingkaran teater.

Laura juga menyetujui bahwa hal ini bisa dan sudah pasti akan menjadi kendala. Tetapi menurutnya, bagaimana perempuan tersebut menghadapi masalah inilah yang justru menjadi penentu di masa depan.

“Itu bisa menjadi kendala, sudah pasti. Tapi balik lagi ke perempuan di dalam komunitas itu. Hal itu akan terjadi terus menerus kalau memang kita membuatkan itu terjadi. Ketika perempuannya akhirnya memilih untuk keluar, secara tidak langsung ia membiarkan orang lain mengalami apa yang dia alami. Perempuan harus bersikap, speak up person to person atau cara lain. Mungkin ada banyak perempuan yang takut sehingga enggak sedikit orang yang meremehkan kompetensi perempuan,” tegasnya.

Peran Perempuan Dalam Lingkaran Teater

Keberadaan perempuan di dalam lingkaran teater seringkali diremehkan. Karena masih adanya stigma yang menganggap perempuan tidak kompeten dalam berteater, tidak banyak perempuan yang masih bertahan dalam lingkaran tersebut. Hal ini juga rupanya ditanyakan oleh salah satu penonton live talk Fokus Teater Bogor.

Untuk menjawab hal tersebut, Laura pun menjabarkan bagaimana pentingnya perempuan di dalam lingkaran teater.

“Perempuan itu penting, karena bagaimanapun perempuan itu yang juga melahirkan rasa baru, bisa menjadi tambahan rasa lainnya. Kalau kita menyadari bahwa kita perempuan, kita akan lebih dulu tahu situasi yang akan datang dan kendala apa yang akan kita hadapi. Malahan, di situ kita punya solusi dan keadaan untuk menguasai ruang dan tempat. Sebenarnya banyak aktris di Bogor, tapi belum terpetakan dengan baik saja,” jawab Laura.

Perempuan Dalam Teater
Perempuan melahirkan rasa baru di dalam teater (foto: Best Tutorial)

Ada pula seorang penonton yang menanyakan tanggapan Laura mengenai citra teater yang masih dianggap aneh dan asing oleh kebanyakan perempuan. Seperti yang kita tahu, budaya komunitas teater bisa dibilang nyentrik, dan banyak yang beranggapan bahwa elemen-elemen ini tidak sinkron dengan perempuan. Laura ternyata juga memiliki cara sendiri untuk mengatasi benturan di ruang psikologi seperti ini.

“Faktanya, perempuan itu makhluk yang sulit dimengerti. Seringkali terjadi salah paham dalam pembacaan sikap karena perempuan menilai semuanya dari perasaan. Tetapi gua lebih banyak meruntuhkan gap itu. Kasih gua penjelasan yang bisa diterima logika. Kalau kita merasa ada yang nggak sejalan dengan kita karena kita perempuan, kita harus berani speak up. Kalian harus menempatkan diri dengan speak up. Balik lagi, teater itu buat lu apa. Ruang yang ada harus lu manfaatkan untuk memenuhi ekspektasi lu terhadap teater di hidup lu,” Laura menjelaskan.

Panutan Perempuan Dalam Teater

Dalam melakukan segala sesuatu seringkali kita membutuhkan seorang panutan untuk menjadi contoh dan motivasi kita. Sama halnya dengan ketika berteater. Laura berpendapat bahwa perempuan di teater itu butuh sosok untuk bisa bertahan dan berkarya, serta menjadi pengingat. Panutan perempuan di dalam teater juga tidak melulu harus perempuan.

Perempuan Dalam Lingkaran
Christine Hakim merupakan salah satu panutan Laura (foto: dream.co.id)

“Panutan enggak harus perempuan, tapi harus ada perempuannya, supaya jadi pembanding dengan diri lu di teater. Panutan gua Almarhum Abah Cherry, karena ketika gua berproses dengan beliau, gua merasa sudah kapabel menjadi aktor, tapi ternyata tidak. Itu yang membuat gua merasa tertampar. Sedangkan untuk panutan perempuannya adalah Christine Hakim,” ujar Laura.

Genre Teater dan Budaya Teater di Bogor

Laura adalah salah satu pegiat teater perempuan yang berangkat dari genre realisme. Tetapi tidak berhenti sampai di sana, ia juga terus mempelajari berbagai genre teater yang lain. Ia juga menjelaskan alasannya terus mempelajari berbagai genre teater.

“Karena gua ingin tahu. Tiap-tiap genre ini memiliki tantangan yang berbedan dan kesulitan yang beda. Masing-masing menarik dan punya tingkat kerumitannya sendiri. Dan itu yang mengasah kemampuan kita,” tuturnya.

Perempuan Dalam Lingkaran
Menurut Laura, tiap genre teater memiliki kerumitannya masing-masing (foto: www.americanplacetheatre.org)

Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya teater di Bogor masih patrialis dan kurang ramah untuk perempuan. Menanggapi hal ini, Laura kemudian menyampaikan pesannya untuk para pegiat teater perempuan di Bogor.

“Kalian semua yang masih ada di dalam lingkaran teater, temukan dulu teater itu buat lu apa, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Ketika sudah menemukan itu, apapun kendala dan batasannya, lu bisa bongkar. Karena perempuan itu kompleks secara psikologis maupun hati, jiwa dan fisik, ketika lu sudah menyadari itu, kendalinya akan lu pegang. Jangan batasi ruang pikir, karena kalau lu sudah memetakan itu, lu akan terbentur dengan keadaan dan lu enggak akan bisa keluar, enggak bisa membuka pikiran itu,” katanya.

Tidak hanya itu, Laura juga menyampaikan pesan harapannya terhadap para anggota teater yang masih duduk di bangku sekolah yang sekaligus menutup acara live talk tersebut.

“Untuk teater sekolah, yang utama adalah belajar. Nikmati aja proses perkenalan lu dengan teater. Sejatinya, ketika sudah sampai pada fasenya, lu akan tahu harus bagaimana. Gua yakin, perempuan-perempuan itu sebenarnya dalam ruang mereka masing-masing dengan segala masalah yang ada, mempunyai sense of art. Terlebih yang sudah mengenal teater, jadi jangan sampai dilenyapkan begitu saja. Harapan gua, akan banyak regenerasi perempuan di lingkaran teater sampai menua di panggung teater,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *